Peluncuran Aplikasi Pertukaran Warkat Debit, Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia di Surabaya, Jumat (1/3/2024). DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Kota Surabaya menjadi kota pertama penerapan aplikasi Pertukaran Warkat Debit, Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (PWD SKNBI). Setelah Surabaya akan ke Medan, Bandung dan Jakarta Warkat merupakan alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan melalui kliring.

Alasan dipilihnya Kota Surabaya karena penggunaan Warkat di Kota Pahlawan ini sudah mengalami penurunan drastis menjadi 3.400 an lembar per hari di 2024 ini. Sedangkan di Indonesia itu sejak 10 tahun terakhir penggunaan Warkat sudah menurun hingga 80 persen. Bahkan pada 2022 hanya 9,1 juta dan pada 2023 menurun menjadi 8,1 juta lembar.

Kepala Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Ida Nuryanti mengatakan BI kembali menggunakan pigeonhole bukan lagi reader sorter untuk pembayaran warkat ini karena dari hasil kajian dan pertimbangan yang matang.

“Karena  memang perputaran warkat di Surabaya khususnya itu kan sudah menurun tajam. Kita juga melihat posisi 79 kantor bank peserta itu seperti apa. Aksesnya berupa jarak tempuh dan sebagainya kita kalkulasi ternyata pigeonhole masih relevan untuk efisiensi sistem pembayaran dengan warkat ini,” jelasnya usai Seremonial Aktivasi aplikasi Pertukaran Warkat Debit, Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (PWD SKNBI), di kantor BI Jatim, Jumat (1/3/2024).

Selama ini memang untuk proses kliring warkat, BI menggunakan Reader Sorter. Mesin ini memang memudahkan namun harganya sangatlah mahal. Pada 2010 lalu harganya mencapai Rp 3 miliar per unit. Namun saat ini harga sudah naik hingga tiga kali lipat. Bahkan biaya perawatan mesin ini mencapai Rp 1 miliar per tahun.

“Padahal pemakaiannya tidak maksimal. Di Surabaya saja dari mesin reader sorter punya kapasitas 12 ribu warkat per hari tapi hanya dipakai 10 persen. Kan sayang uangnya,” jelasnya.

Karena itu BI kata Ida tidak ingin membebani perbankan dan masyarakat secara luas. Sehingga dibutuhkan inovasi untuk mengatasi permasalahan ini. “Kita ingin semuanya bisa efektif dan efisien. Karena walau menurun, warkat ini masih dibutuhkan. Cek dan bilyet giro masih dibutuhkan masyarakat luas,” ungkapnya.

Karenanya, BI berinovasi dengan membuat aplikasi Pertukaran Warkat Debit, Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia. Aplikasi ini bisa diunduh di ponsel dan petugas bisa melakukan proses kliring di manapun asalkan ada jaringan internet.

Kelebihan aplikasi ini selain bisa dilakukan di mana saja, juga memiliki beberapa fungsi lainnya. Salah satunya pelaporan dan absensi petugas kliring. Sehingga petugas yang selama ini harus datang ke lokasi lalu kemudian entry data, sekarang tidak perlu lagi dilakukan.  Dengan aplikasi ini, petugas kliring bisa memasukkan datanya dari manapun tanoa harus hadir di lokasi tempat penyelenggara.

Sudah Melalui Berbagai Macam Ujicoba

Kepala Departemen Layanan Digital dan Keamanan Siber BI, Retno Ponco Widarti mengaku aplikasi ini sudah melalui berbagai macam ujicoba baik dari sistem, fungsi serta  dari sisi keamanan sibernya.

“Tapi kita tetap meminta petugas kliring ini untuk berhati-hati. Terutama dalam penggunaan internet. Gunakan internet yang aman agar keamanan siber terjaga,” ungkapnya.

Bandoe Widiarto selaku Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur menambahkan sistem pembayaran di Indonesia semakin berkembang. Apalagi di tengah masifnya teknologi digital. “Warkat menurun karena memang sistem pembayaran digital kita sudah maju. Namun BI tetap memfasilitasi  warkat ini karena bagaimanapun masih disukai. Karena memberikan keuntungan bagi pengusaha salah satunya bisa membayar dengan tempo tertentu,” tuturnya.

Untuk bisa melancarkan program ini, BI sudah melakukan pelatihan bagi petugas kliring dari berbagai bank di Jawa selama dua hari yakni Rabu (28/2/2024) dan Kamis (29/2/2024) yang diikuti 79 bank penyelenggara. ril/end

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry