“Hidup adalah “kembali ke rumah” all about coming home. Apapun kesibukan kita sebagai anak atau santri, jika dapat undangan dari orang tua dan keluarga guru sebisanya menjadi prioritas hadir”

Oleh Dr H Syarif Thayib, SAg. MSi

BANYAK rumah yang pernah saya huni (>1 tahun). Mulai dari Cirebon, Surabaya, Kediri, Yogyakarta, Bangil, Jember, sebelum akhirnya kembali ke Surabaya sampai sekarang.

Masing-masing rumah tentu memiliki kenangan indah. Cirebon adalah rumah pertama saya. “Akar” dan “Sayap” saya dapatkan di Kota Cirebon yang mempunyai julukan Kota Wali atau bumi Sunan Gunung Djati.

Akar atau karakter yang kuat dan kepribadian yang baik saya dapatkan mulai dari gendongan kedua orang tua yang merawat dan membesarkan saya. Keduanya memberi kasih sayang penuh sambil perlahan mengajarkan beberapa karakter dasar, seperti melatih berkata jujur/ tidak berbohong, kalau salah mintalah maaf, kalau kalah harus sportif/ jangan marah, punya lebih berbagilah, dan seterusnya.

Sedangkan sayap (kompetensi yang membuat anak mampu terbang tinggi menjemput impiannya) mulai serius saya asah di rumah kedua, yaitu Pondok Pesantren Jagasatru (selanjutnya disingkat PPJ). Disini saya mulai belajar dan melatih sayap saya bergerak. Sesekali melompat kecil, dan kadang terbang setinggi satu-dua meter yang membuat kagum Ibu dan Bapak saya di rumah Pagongan Cirebon.

Kagum? Ya, karena waktu itu saya bisa menjuarai lomba khitobah di tingkat PPJ, juga tingkat PGAN Cirebon. Bahkan beberapa kali ngisi kuliah Shubuh, Kultum Terawih, dan khutbah Jum’at di depan Bapak dan tetangga rumah.

Alhabib Muhammad bin Syaikhani Abubakar Yahya atau yang biasa kami sapa Kang Ayip adalah guru Pesantren pertama kami yang paham betul kekuatan sayap santri-santrinya.

Saya bersama seluruh santri PPJ dilatih tentang ilmu kehidupan langsung dengan melihat aktifitas keseharian beliau, khususnya ketika beliau membersamai santri, pengurus PPJ, tamu dan Jemaah pengajian yang datang ke PPJ. Beliau tidak banyak bicara, apalagi menggurui.

Kami para santri lama-lama paham bagaimana seharusnya kita memperlakukan sesama. Semua prilaku dan tutur kata Kang Ayip kepada siapapun kuat terekam dalam memori alam bawah sadar kami. Jadi benar kata orang bijak, bahwa belajar dengan melihat itu lebih kuat melekat dibandingkan belajar dengan cara mendengar.

Setelah akar mulai menguat, sayap makin terlatih mengepak kesana-kemari, maka saya-pun pamit ke Kang Ayip untuk melanjutkan belajar ke Surabaya dengan bekal nasihat beliau, bahwa selain kuliah jangan berhenti ngaji (kitab), rutin ziarah ke Sunan Ampel, juga lakukan amalan bacaan sujud akhir Tahajjud, QS. Al Insyirah ba’da Shalat Rawatib, dll dst.

Kemudian hampir di setiap liburan kuliah, saya dan Bapak selalu silaturrahim ke PPJ. Kalau pas lagi di Cirebon, kami selalu diajak menghadiri acara Maulid, Haul Habib Syeikh, Open House Lebaran, kadang menyelinap masuk di acara Sawwalan Habaib tiap 2 Sawwal, juga lebaran Sawwal di Aula PPJ.

Saya bersyukur rumah orang tua di Pagongan Timur beberapa kali dikunjungi beliau, sampai para tetangga heran karena Kang Ayip berkenan menghadiri sekedar acara khitanan ponakan, tahlilan, atau selametan kecil keluarga kami.

Kang Ayip bagi kami para santri dan alumni PPJ kedudukannya melebih dari sekedar guru, beliau adalah orang tua, sekaligus role model (panutan). Saya pribadi seringkali mampu menahan diri untuk melakukan hal yang tidak pantas dilakukan oleh santri karena bayang-bayang Kang Ayip.

Beliau sosok yang ramah, lembut, dan peduli dengan siapapun. Kami para santri-santrinya dalam berbagai silaturrahim selalu merasakan beragam perhatian, bahkan mendapatkan cerita dan pertanyaan yang sifatnya apresiatif (saat ini mungkin bisa disamakan dengan istilah appreciative inquiry).

Kadang beliau sampai hadir dalam mimpi, ketika hal itu dikonfirmasi, beliau dengan senyumnya yang khas meminta kami untuk berdoa saja, tanpa harus sibuk mencari tahu apa makna mimpi itu.

Untuk terus menjalin tali silaturrahim dengan keluarga besar PPJ, kami terus berusaha menghadirkan para dzurriyah Kang Ayip dan keluarga besar PPJ pada acara di rumah atau di kampung kami. Kang Hasanain, Kang Umar, Habib Miqdad Baharun dan lain-lain Alhamdulillah pernah hadir di rumah Pagongan. Bahkan ketika Bapak kami meninggal, Kang Ayip mengutus (mantu cucu) Habib Miqdad Baharun untuk mendampingi kami sampai dengan prosesi pemakaman selesai.

Sekali lagi, bagi kami atau siapapun yang pernah menjadi santri Kang Ayip meyakini bahwa capaian prestasi yang diraih saat ini tidak lepas dari jasa besar Kang Ayip dan keluarga besar PPJ yang dengan ketulusan dan ketelatenannya melatih “sayap” kami untuk terus terbang tinggi meraih mimpi.

Santri-santri Kang Ayip yang saya kenal, baik yang senior (kakak kelas) maupun yang yunior, sepengetahuan saya semuanya menjadi manusia yang bermanfaat, minimal bagi masyarakat sekitarnya. Yang berkarier di pemerintahan seperti saya, ada yang menjadi Pj. Gubernur Sumatera Selatan, Direktur di Kementerian Agama RI, Kepala Kemenag di beberapa kota di Indonesia, bahkan ada yang sukses menjadi guru besar di salah satu kampus paling bergengsi di California USA, dan lain-lain.

Yang swasta, tidak sedikit yang menjadi Kepala Desa, Camat, Rektor Universitas Islam ternama, pengusaha perkapalan hingga pasarnya tembus lintas benua, anggota DPR/DPRD, dan lain-lain.

Maka begitu ada acara (undangan) dari keluarga Kang Ayip atau keluarga besar PPJ, kami para santri-santrinya selalu berusaha untuk hadir. Seperti Haul Sayyidil Walid Alhabib Syaikhani bin Abubakar Yahya (Abahnya Kang Ayip) selepas Jum’atan kemarin (23/2), saya yang jauh dari Surabaya menyempatkan hadir, meskipun malamnya langsung bertolak ke Surabaya.

Hidup bagi adalah tentang “kembali ke rumah” all about coming home. Apapun kesibukan kita sebagai anak atau santri jika dapat undangan dari orang tua dan keluarga guru sebisanya menjadi prioritas.

Apapun acara yang kita jadikan prioritas, maka badai sekeras apapun pasti kita terjang. Final Football World Cup dini hari misalnya, karena dia prioritas, tetap bisa kita tonton walaupun tanpa persiapan tidur siang, dan paginya langsung berangkat kerja.

Bagi kami para santri PPJ, Kang Ayip akan terus hidup dalam kehidupan kami, hingga “sayap” ini tak mampu lagi bergerak, “akar” pada akhirnya tercerabut untuk kita pertanggungjawabkan di hadapan Sang Maha Cinta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Berharap di alam berikutnya kita tetap berkumpul sebagaimana acara Haul kemarin dengan keluarga besar Sayyidil Walid Alhabib Syaikhani bin Abubakar Yahya. Alfatihah.(*)

*Dr  H. Syarif Thayib, S.Ag. MSi adalah santri Pesantren Jagasatru Cirebon, Dosen UINSA Surabaya

 

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry