SURABAYA | duta.co – Menarik! Nama lengkapnya Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo alias Mbah Benu. Dialah imam Jemaah Masjid Aolia Gunungkidul. Dia dikenal pengamal manaqib Syaikh Abd al-Qadir al- Jilany. Hari ini, namanya masih menjadi perbincangan. Setidaknya, bagaimana cara mengingatkan kekeliruan Mbah Benu dalam menetapkan tanggal 1 Syawwal.

“Yang jelas, dia tidak menggunakan metode rukyat atau hisab sebagaimana yang dilakukan NU dan Muhammadiyah. Potensi menyimpangnya sangat tinggi. Hari Jumat (5/4/24), tanggal 25 Ramadhan 1445 H sudah menetapkan 1 Syawwal. Selisih berhari-hari. Ironisnya dasarnya telpon Gusti Allah atau perjalanan batin. Kasihan, ini harus diberitahu,” tegas Dr Mohammad Mukhrojin, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Sukolilko, Surabaya kepada duta.co, Minggu (7/4/24).

Menurut Mukhrojin, inilah tantangan para dia (dakwah) ke depan. Bagaimana caranya memberitahu kesalahan itu, tanpa harus ‘menusuk hari’ perasaan dia sebagai Imam Masjid (Aolia) yang (tentu) menjadi panutan jamaahnya. “Beliau kemudian sibuk menjelaskan maksud ‘Telpon Gusti Allah’. Bahwa yang dimaksud adalah perjalanan batin, di mana setiap orang memiliki keyakinan sendiri-sendiri,” terangnya.

Masih menurut Ketua MUI termuda ini, kalau saja 1 Syawwal jamaah Aolia itu tanggal 9 atau 11 April, mungkin masih debatable. Tetapi, menentapkan 1 Syawwal 1445 H pada tanggal 5 April 2024 M, itu jauh dari kebenaran syar’i. “Apalagi dasarnya usai ‘Telpon Gusti Allah’. Karena itu, pemerintah, dalam hal ini Kemenag, MUI atau PBNU dan Muhammadiyah bisa duduk bersama, bagaimana menghadapi fenomena ini. Ke depan dakwah harus benar-benar bijak, tidak boleh asal mengecam,” urainya.

Yang dilakukan PBNU, jelasnya, sangat tepat. Mengingatkan kepada seluruh umat Islam untuk tidak bermain-main dengan syariat. “Hal-hal yang sudah menjadi ketetapkan, termasuk dalam mengakhiri ramadhan, masuk 1 Syawwal itu menggunakan hisab atau rukyat. Kalau pun ada perbedaan, itu sangat masuk akal,” tegasnya.

Dr Suhermanto, MHum dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, melihat fenomena Mbah Benu tidak boleh menggunakan kacamata kuda. Bahkan fenomena ini harus dilihat dari prespektif selain fiqh. “Kita bisa gunakan prespektif tasawuf. Pernyataan Mbah Benu ‘Telpon Gusti Allah’ itu maknanya pengalaman keagamaan, spiritualitas seseorang. Sehingga proporsinya tidak terukur. Ibarat maqom sufi dia (sedang) ekstasi,” tegasnya.

Ini, lanjutnya, sama dengan pernyataan Rabiah Adawiyah yang bawa obor siang hari ketika ke pasar. Lalu dia berkata surga dan neraka akan saya bakar. Artinya, beribadah itu jangan untuk surga, dan takut neraka. Harus tunduk kepada Allah Swt yang punya surga dan neraka. Nah, pernyataan Mbah Benu itu juga alegoris (perlambang). Pilihan diksi pada pernyataan yang kurang pas. Inilah tantangan dakwah ke depan,” tegas Suhermanto.

Kurang lebih sama disampaikan Drs Mahfud MN, jebolan Fakultas Syariah IAIN (sekarang UIN) Sunan Ampel Surabaya. Menurut Mahfud, Mbah Benu itu kalau dilihat secara aqidah adalah Asy’ariyah wal Mathuridiyah. Namun soal penetapan 1 Syawwal ini, keluar dari empat madzab (fiqh arba’ah) yang muktabar.

“Maka, diperlukan pendekatan dakwah secara persuasif, jangan-jangan Mbah Benu mendapat bisikan ‘halus’ yang sulit diterima akal. Padahal agama tidak bertentangan dengan akal,” tegas Ketua Umum Koorcab PMII Jawa Timur 1992-1994 ini.

Siapa Mbah Benu

Ketetapan Mbah Benu Jumat (5/4/2024) 1 Syawwal 1445 H, jelas jauh dari hasil sidang isbat pemerintah yang baru dilaksanakan tanggal 9 April dan 1 Syawwal antara 10 atau 11 April 2024 mendatang.

Tidak banyak referensi tentang sosok Mbah Benu. Akan tetapi, ia pernah ditulis secara khusus dalam Tesis berjudul Dekonstruksi Mitos Kanjeng Ratu Kidul dalam Pendidikan Akidah Perspektif KH Raden Ibnu Hajar Shaleh Pranolo 1942-Sekarang (2017) yang ditulis Mohamad Ulyan mahasiswa Magister PAI IAIN Purwokerto pada 2017 silam.

Penulis menggali secara mendalam terkait Mbah Benu. Dalam tesis itu, Mbah Benu disebut lahir di Pekalongan, Sabtu Pon 28 Desember 1942 dan besar di Solotiang, Maron, Purworejo. Tesis ini juga menuliskan Mbah Benu setelah drop out pada semester akhir dari Fakultasnya, Kedokteran UGM Yogyakarta, kemudian menetap di Giriharjo, Kecamatan Panggang sejak 27 Juli 1972.

Mbah Benu ngaji langsung kepada ayahnya yaitu Kiai Soleh bin KH Abdul Ghani bin Kiai Yunus. Ayahnya merupakan lulusan berbagai pesantren besar di Jawa dan Madura seperti Krapyak, Termas, Lirboyo, Madura, bahkan merupakan salah satu murid Mbah Kholil Bangkalan, Madura.

Mbah Benu memutuskan keluar dari FK UGM karena tidak mau memakan uangnya orang sakit, orang menderita dan orang meninggal. Dia memutuskan untuk menetap di daerah Gunungkidul untuk mengikuti calon istri yang waktu itu bertugas sebagai bidan di Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul. (mky)

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry