Ini Kali Buntung di Desa Sidorejo: Tampak Penuh Eceng Gondok, sampai tak terlihat bentuk sungainya. (FT/MKY)

SIDOARJO | duta.co – Parah! Banjir belum surut, langit sudah memberi tanda-tanda turun hujan. Awan pekat disertai gluduk ngampar ngampar (petir yang terus menyambar) terus terdengar. Kades Sidorejo, Hery Sucipto Achmadi, ST pun minta perangkat turun gunung.

“Perlu kerja bakti. Seluruh perangkat desa, ditambah Ketua RT, Ketua RW perlu turun gunung membersihkan Kali Buntung. Di sana (kali itu) penuh dengan eceng gondok. Ini membuat sungai mampet-pet,” demikian disampaikan Hery Sucipto Achmadi, kepada duta.co, Kamis (8/2/24).

Hery kemudian membuat surat undangan ditujukan kepada seluruh perangkat desa, termasuk BPD, LPMND, Ketua RW, RT bahkan Pengurus BUMDES untuk turun gunung. Sabtu, tanggal 10 Februari 2024, pukul 07.00 sampai selesai mereka bersih-bersih sungai. Titik kumpul Jembatan Dusun Madubronto. “Ini darurat. Sambil menunggu normalisasi dari Dinas Pengairan Pemkab,” tegasnya.

PENUH ECENG GONDOK. INILAH Sungai Buntung yang diumbar tidak dikalakukan normalisasi. (FT/DUTA.CO)

Seperti diberitakan duta.co, Rabu (7/2/24) mendung masih menyelimuti Desa Sidorejo, Krian, Kabupaten Sidoarjo. Sementara sisa banjir, Selasa (6/2/24) belum juga surut. Padahal, sungai Buntung (kali buntung) yang mengiringi desa tersebut, kondisinya mampet oleh tanaman eceng gondok.

“Kelasnya sudah sangat parah. Di mana kerja pemerintah kabupaten? Masak sungai buntung dikeruk (normalisasi) hanya setelah Pilkada. Kini sudah penuh dengan eceng gondok. Akhirnya banjir tak terelakkan. Padahal, hujan akan terus mengguyur,” demikian Arief Supriyono, SE, SH, MM, Ketua RW-09 Perumahan Taman, Desa Sidorejo, kepada duta.co, Rabu (7/2/24).

Menurut Arief, ajakan Kades Hery Sucipto Achmadi harus kita dukung. Cuma, jelasnya, urusan eceng gondok tidak cukup hanya dengan kerja bakti. “Harus ada pekerja yang kita bayar untuk turun sungai. Lalu kita bantu secara maksimal. Ini bukan pekerjaan gampang, membutuhkan alat yang memadai,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan Ketua RW 11 Alam Pesona, Desa Sidorejo, Budi Winarno. Menurut Budi, normalisasi Kali Buntung itu membutuhkan tenaga ekstra, tidak cukup dengan kerja bakti. “Bagus, memang harus segera kita selesaikan. Karena itu, desa harus mengeluarkan duit untuk pekerja, dan kita bantu secara maksimal,” tegasnya.

Ancaman volume hujan tinggi, masih terus terjadi. Kalau saja kali buntung normal, maka, banjir bisa segera teratasi. ”Lihatlah hampir setiap lorong seperti sungai. Kalau hari ini hujan, lalu besok hujan lagi, kondisinya lebih parah. Sementara ancaman el-nino menurut BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) masih terus berjalan,” tegasnya.

Dalam pantuan duta.co, kondisi lumpuh (banjir) memang hampir merata. Hal yang sama juga terjadi di area sungai Desa Prasung, Kecamatan Buduran, Sidoarjo. Sungai itu penuh dengan eceng gondok. Nyaris seluruh permukaan sungai itu tertutupi eceng gondok. Menurut warga setempat, kondisi ini sudah berlangsung setahun terakhir.

Tumbuhan yang mempunyai nama ilmiah Eichhornia Crassipes itu menutupi permukaan sungai, yang panjangnya mencapai kurang lebih 2 kilometer. “Kalau Pemkab-nya diam, maka, warga pasti terdampak banjir,” tegas warga setempat.

Warga Sidorenggo, Desa Sidorejo, Kec. Krian dikepung banjir.

Banjir juga menggenangi sejumlah titik di Terminal Purabaya. Hampir seluruh jalan terminal terbesar di Jawa Timur itu terendam banjir, mulai dari area pintu masuk terminal, tempat penurunan penumpang bus, area parkir dan tempat keberangkatan.

Kondisi paling parah pada akses pintu masuk dan keluar terminal. Tinggi genangan air mencapai 30 cm. Hujan lebat yang disertai angin kencang tersebut juga menyebabkan pohon di pintu masuk terminal tumbang. Sehingga sempat menghambat akses masuk awak bus kota.

Sementara itu, Dwi Eko Saptono Kepala Dinas PU Bina Marga dan Sumber Daya Air (PU BMSDA) Sidoarjo mengatakan, ada empat titik yang banjir selama musim hujan kali ini yaitu Waru, Tanggulangin, Porong, dan Berbek. Genangan tertinggi terpantau terjadi di wilayah Waru.

“Hasil update pagi ini banyak yang ada di wilayah Kecamatan Waru, Sidoarjo, mulai dari barat sampai dengan timur. Waru banyak terdampak luapan Avour Buntung. Avour ini memang yang terbesar di wilayah Sidoarjo maupun perbatasan Surabaya,” ujar Dwi Eko Saptono dikutip radio Suara Surabaya. (mky)

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry